SETAN KECIL

…….

Lamunan Lupus kemudian dikejutkan oleh seorang anak tanggung yang sibuk dengan roti dan esnya. Asyik memamerkan ke orang-orang di sekelilingnya. Suatu pemandangan yang menjengkelkan di bulan puasa. Dan Lupus tak akan begitu peduli kalau anak itu tidak datang menghampiri dan berkata lantang,

“Mas, mau roti, Mas? Enak deh. Isinya keju. Atau mas mau es jeruk ini?”

Lupus diam saja. Maklum anak kecil.

“Kok diam saja, Mas? Jangan malu-malu, lho. saya punya dua biji kok..”

“Jangan bercanda, ya? Saya puasa!” bentak Lupus

Anak itu tertawa. Betapa menjengkelkannya! Dan kembali menggoda orang-orang di sekelilingnya. Anak aneh. Senakal-nakalnya Lupus, dia toh tak akan sekurang ajar dia. Benar-benar keterlaluan. Tapi karena ini bulan puasa, Lupus masih menahan emosi untuk menendang anak itu kuat-kuat.

anak makan kue

Beberapa menit kemudian, Lupus mendengar anak kecil itu berteriak-teriak. Lupus sempat kaget juga. Ternyata ada beberapa anak muda yang nggak bisa menahan diri untuk ngerjain anak kecil itu. Lupus jadi kasihan, lalu menghampiri,

“Eh, lepaskan. Itu adik saya. Maaf, dia memang nakal sekali..”

Anak-anak muda itu serentak memandang Lupus.

“Adik kamu kurang ajar sekali. Nggak pernah diajar sopan santun, ya?” cetus salah satu dari mereka.

“Maaf, mas, dia memang kelewatan nakalnya.Biar saya bawa pulang saja,” sahut Lupus menuntun anak itu keluar.

“Hu-kalo geda aja , udah gue hajar!” gerutu mereka.

Sesampainya di luar gedung, Lupus menjewer anak nakal tu.

“Nah, anak nakal. Sekarang kamu sudah selamat. Untung saya masih baik. Kalo enggak, kamu pasti dihajar sama mereka.”

Anak itu diam. Menunduk dalam-dalam.

“Apa kamu enggak pernah diajar ibu kamu untuk menghormati orang yang sedang berpuasa?”

Anak itu tetap diam. Tak berani memandang ke wajah Lupus. Tangannya sibuk meremas-remas sisa roti yang belum habis dimakan.

“Sekarang kamu pulang saja. Dan jangan nakal lagi ya? Kalo bisa, besok kamu belajar puasa. Biar kamu ngerasain juga, gimana kekinya melihat orang makan seenaknya di depan kita yang lagi kelaparan.”

“Saya sering merasakan itu!” Anak-itu tiba-tiba berkata ketus. Matanya mulai berani menentang Lupus.

“Saya sering merasakan betapa pedihnya hati saya melihat orang lain makan roti seenaknya di depan saya. Di depan mata saya. Sementara saya begitu kelaparan. Tapi mereka nggak peduli. Mereka nggak mau memberikan sebagian rotinya untuk saya yang kelaparan. Saya memang orang miskin yang selalu kelaparan, sejak saya nggak boleh jualan koran lagi. Sekarang apa saya salah membalas sikap mereka yang tak pernah peduli pada saya?”

Lupus jadi bengong.Sedang mata anak itu mulai berair.

“Saya hanya ingin mereka mereka juga ngerasain gimana pedihnya jadi orang kelaparan itu, sementara di depan mata kita orang lain seenaknya makan roti.Saya dendam sama mereka. Dan di bulan puasa inilah saya bisa memuaskan dendam saya..”

Lupus melihat bahwa anak itu mamalingkan wajahnya, berusaha menahan air mata yang jatuh satu-satu. Lupus jadi terharu.

“Ah, setan kecil, nggak semua orang berbuat begitu kepadamu. Jangan menangis, nasib kamu masih terlalu pagi untuk ditangisi. Sekarang kamu ikut saya dulu. Kita cerita-cerita lagi. Siapa tau nanti saya berbaik hati nawarin kamu ikut berbuka puasa di rumah saya, oke?” Lupus berusaha membuat hati anak itu riang.

“Ayolah ikut saya. Nanti kamu saya kenalin adik sya yang nakal kayak kamu. Dia juga paling hobi ngegangguin orang yang lagi puasa kalo kebetulan dia lagi halangan untuk puasa. Namanya Lulu. Orangnya cakep kayak saya..”

Anak itu masih diam. Tapi tak menolak diajak Lupus pergi.

(dari novel “Lupus” ~ Topi-Topi Centil: Anak Kecil yang Selalu Lapar)


Begitulah, kadang kita tidak memperhatikan apa yang sering kali kita lakukan. Dan ketika orang lain sekali waktu melakukannya kepada kita, kita tidak dapat menerimanya.Mungkin Allah hanya ingin agar kita belajar untuk bercermin dan melihat ke diri sendiri apa yang selama ini kita lakuakan. Salah satunya dengan hal-hal yang mungkin menjengkelkan menurut kita.

Semoga menjadi renungan

Family Trip SDM IPTEK

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hedaklah dia menyambung silaturrahmi” (HR Bukhari)

Selasa, 27 Januari 2015

Setelah sholat subuh berjamaah 15 orang santri dan supervisor SDM IPTEK duduk berkumpul membentuk lingkaran. Sesuai rencana hari itu perjalanan mengunjungi rumah masing-masing santri dimulai. Dua mobil putih Daihatsu Xenia dan Toyota Avanza telah siap di halaman asrama untuk mengangkut 14 orang santri dan 1 orang Spv. Setelah briefing singkat dan berdoa, perjalanan pun dimulai dengan tujuan pertama rumah salah satu santri yakni Febi di Ngantang Kab. Malang. Mobil dikemudikan oleh santri SDM IPTEK yang kebetulan telah mempunyai kemampuan menyetir dan lisensi. Perlahan namun pasti mobil menembus pagi meninggalkan kota Pahlawan. Mobil Xenia berisi tujuh orang yakni Rozi, Faishol, Mas Arif Pradana (Spv.), Jamhari, Febi, dan Ilham sebagai driver serta driver cadangan Reza. Mobil Avanza   berisi delapan orang yakni Zaka, Nur, Aqor, Fain, Huda, Arif Tri, dengan driver Wildan dan driver cadangan Abri.

Setelah sekitar tiga jam perjalanan sampailah rombongan di rumah Febi. Disana tim disambut dengan ramah oleh kedua orang tua Febi dan hawa dingin khas pegunungan malang. Setelah sedikit mengobrol dengan ayah Febi, tim mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Rumah Huda yang masih satu kecamatan dengan Febi. Hanya sekitar 15 menit kemudian kedua mobil telah sampai di rumah huda. Di seberang jalan dari rumah tersebut ada lapangan sepak bola. Dan disebelah lapangan tersebut ada sebuah Madrasah Tsanawiyah, tempat dulu Huda bersekolah. Disana keluarga dari Huda telah siap menyambut kami dengan bakso malang panas yang cocok dengan hawa sejuk khas Malang. Setelah dirasa cukup, tim memohon diri untuk melanjutkan perjalan menuju ke selatan tepatnya ke rumah Zaka di Kabupaten Blitar. Tepat saat waktu dzuhur tim sampai di Blitar, namun bukan di rumah Zaka tetapi di rumah kakaknya, karena disana sedang ada acara selamatan rumah baru kakaknya sehingga semua keluarganya ada disana. Setelah sholat dzuhur dan ashar yang di jama’ takdim, tim bertolak menuju rumah Faishol di Ngadiluwih Kab. Kediri. Disana disambut oleh Nenek dan paman dari Faishol. Ayah dan ibunya bekerja keluar negeri di Arab Saudi. Sedang adik – adiknya masih bersekolah.

Dari Kediri perjalanan dilanjutkan ke Tulungagung, rumah Rozi. Sebelum sampai ke Rumah Rozi, tim menyempatkan untuk mampir ke rumah Luthfi, santri asrama SDM IPTEK yang meninggal karena kecelakaan motor, yang juga di Tulungagung. Terlihat ayah Luthfi menyambut rombongan teman-teman almarhum putra sulungnya itu dengan senyum hangat. Setelah itu barulah tim berangkat menuju rumah Rozi. Keluarga Rozi menyambut dengan hangat kedatangan rombongan. Setelah sedikit bersenda gurau dengan ayah Rozi perjalanan dilanjutkan ke Madiun, rumah Wildan. Sampai di Madiun hari telah malam, sekitar pukul sembilan. Setelah makan malam, tim menuju Rumah Sakit karena kedua orang tua Wildan sedang berada di sana menjenguk saudaranya. Kebetulan juga mertua dari mas Erik Sugianto (Manager SDM IPTEK) juga dirawat di sana karena sakit. Dari rumah sakit tim di mobil Xenia ke Ngawi, rumah ilham untuk mengambil kamera dan bebebrapa barang serta menginap di sana. Sedangkan mobil Avanza kembali ke rumah Wildan untuk istirahat.

Rabu, 28 Januari 2015

Setelah sarapan pagi yang disediakn keluarga Wildan, tim melajutkan perjalan menuju Yogyakarta. Sebelumnya tim Avanza dan tim Xenia menuju alun-alun kota Magetan untuk bertemu dan berangkat bersama. Setelah melewati beberapa kabupaten, tim sampai di pesisir selatan Yogyakrta tepatnya di pantai Wedi Ombo, Kabupaten Gunung Kidul. Puas bermain di pantai, tim melanjutkan perjalanan ke kota Yogyakarta. Tim mampir ke sebuah warung makan dan menikmati wedang ronde serta bakmi dan nasi goreng hangat. Kemudian dilanjutkan untuk jalan- jalan sebentar di malioboro. Setelah menjajal kopi jos di daerah tugu, tim bertolak ke Klaten, rumah Mas Arif Pradana. Sampai di sana sekitar pukul 10 malam. Meskipun waktu cukup malam tetapi keluarga mas Arif tetap menyambut hangat kedatangan tim.Karena lelah dan esok harus malanjutkan perjalanan tim pun segera beristirahat.

Kamis 29 Januari 2015

Pagi hari setelah sarapan pagi dengan menu yang diberikan oleh ayah dan ibu mas Arif, tim melanjutkan perjalanan kembali ke Jawa Timur, tepatnya menuju rumah Reza di Magetan. Di Magetan tim mampir ke telaga Sarangan dan menjajal mini boat mengelilingi danau. Setelah itu karena mendapat kabar bahwa mertua dari mas Erik Sugianto yang sebelumnya dirawat di RS Madiun ternyata meninggal dunia, tim memutuskan untuk Ta’ziah ke rumah mertua mas Erik. Kebetulan rumah beliau di Magetan, sehingga tim bisa segera sampai di sana untuk Ta’ziah. Setelah itu baru tim menuju ke rumah Reza. Tetapi karena ayah Reza sedang bekerja di Badan Pertanahan, kami mampir dulu ke kantor beliau untuk menemuinya. Setelah itu barulah tim ke rumah Reza. Di rumah Reza ternyata sepi karena ibu dan kakaknya juga sedang bekerja di luar kota. Setelah beristirahat dan makan siang, tim melanjutkan perjalanan menuju Ngawi, rumah Ilham. Selama perjalan menuju Ngawi hujan turun dengan lebatnya. Di tengah perjalanan ada kabar duka dari Mas Agus, alumni SDM IPTEK bahwa istrinya meninggal dunia di Surabaya. Sehingga mas Erik yang berada di Magetan memutuskan untuk ikut perjalanan. Tim Xenia pun kembali ke rumah Mas Erik untuk menjemputnya sedangkan tim Avanza melajutkan perjalanan menuju rumah Ilham.

Di rumah ilham, Ayah dan ibu Ilham menyabut dengan ramah kedatangan tim. Setelah semua tim berkumpul dan menunaikan ibadah sholat maghrib dan Isya’ yang di jama’ takdim, tim berangkat menuju Tuban, rumah Fain. Jarak dari Ngawi dan Tuban yang cukup jauh membuat tim sampai di rumah Fain pukul 11 malam. Di sana disambut oleh kakak dan bibi Fain dengan ramah. Kedua orang tua mahasiswa jurusan statistika ini bekerja di Malaysia. Setelah menyantap soto hangat yang disediakan keluarga Fain tim melanjutkan perjalanan menuju rumah Aqor di Lamongan. Meskipun sudah terlalu malam untuk bertamu, tetapi tim tetap ke sana karena keluarga Aqor telah menyiapkan mskanan untuk menyambut kedatangan teman-teman putra ke limanya. Sampai di rumah Aqor, tim tetap disambut dengan baik oleh ayah dan ibu Aqor meskipun sampai di sana lewat tengah malam. Setelah dirasa cukup untuk silaturrahim, tim bertolak pulang menuju Surabaya untuk kembali ke Asrama SDM IPTEK. Setelah dua jam perjalanan, tim sampai di asrama untuk istirahat. Meskipun melelahkan, tetapi sangat berkesan. Rasa syukur tentu dirasakan oleh segenap santri dan Spv yang mengikuti perjalan ini, karena Allah SWT memberikan kesempatan yang luar biasa untuk menyambung tali silaturrahim dan memberikan keselamatan sampai akhirnya bisa kembali ke Surabaya dengan selamat.

Harapan Tipis si Merah

Malam final Liga Champions Eropa (UEFA Champions League) tahun 2005 di Istanbul, Turki  menjadi malam yang mungkin tidak akan pernah dilupakan oleh penonton sepak bola dunia, terlebih bagi penggemar klub sepakbola asal Inggris, Liverpool FC saat itu. Punggawa besutan Rafael Benitez berhasil mengangkat trofi bergengsi di daratan Eropa tersebut setelah susah payah mengalahkan wakil Italia AC Milan asuhan Carlo Anceloti. Yang lebih luar biasa lagi Steven Gerrard CS menang dengan drama adu penalti setelah mereka hampir putus asa saat babak pertama berakhir dengan kondisi tertinggal tiga gol tanpa balas. Namun mereka mampu bangkit dan memaksakan pertandingan sampai adu penalti.

Liverpool sukses mengangkat trofi UCL setelah kemenangan yang dramatis

Liverpool sukses mengangkat trofi UCL setelah kemenangan yang dramatis

Darama itu berawal dari gol yang dicetak oleh kapten tim AC Milan, Paolo Maldini yang memanfaatkan tendangan bebas terukur dari Andrea Pirlo. Gol kedua AC Milan dicetak oleh Hernan Crespo yang mebuat jarak kedua tim kian melebar. Sedangkan Gol ketiga AC Milan yang juga dipersembahkan oleh Crespo membawa Milan berada diatas angina saat jeda turun minum.

Namun Liverpool seolah enggan menyerah begitu saja. Semua bebalik menjadi petaka bagi Milan di Babak kedua. Gol cepat Kapten Liverpool, Steven Gerrard memompa semangat rekan-rekannya. The Skipper – julukan Gerrard menyundul bola dan menjaringkannya di sudut kiri gawang I Rossoneri – julukan AC Milan. Gol Kedua dari Smicer semakin meninggikan asa Liverpool untuk bangkit. Dan petaka bagi Milan menjadi kenyataan saat eksekusi penalti Xabi Alonso yang sempat tertepis oleh penjaga gawang Milan, langsung dicocor ulang oleh Xabi untuk menjadi gol penyeimbang kedudukan menjadi 3 – 3. Hasil itu memkasa kedua tim berduel di babak perpanjangan waktu. Tapi sampai 2 x 15 menit berakhir tidak satu gol pun terjadi. Hingga pemenang harus ditentukan lewat adu penalti.

Di babak adu penalti ini, entah karena mental yang telah jatuh atau tekanan pikiran yang terlalu tinggi, 3 dari 5 penendang Milan berhasil digagalkan. Sedangkan 3 dari 4 penendang The Reds – Julukan Liverpool sukses menjaringkan bola ke gawang AC Milan yang dijaga Dida dan menjadikan skor berakhir dengan kemenangan 6 – 5 untuk Liverpool. Hasil itu membayar tuntas perjuangan tak kenal menyerah mereka untuk mengubah asa yang sempat menipis, menjadi aksi heroik yang menginspirasi banyak orang. Seolah-olah mereka yakin bahwa slogan supporter Liverpool yang sangat terkenal itu, bukan sekedar formalitas belaka. Liverpool, You’ll Never Walk Alone!


Hai, sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa sebenarnya saya  bukan penggemar Liverpool (ini penting!). Artikel di atas adalah salah satu tugas dari pelatihan jurnalistik saya untuk mereview sebuah video Final Liga Champions. Bahkan saya lebih berharap AC Milan-tim favorit saya pas SMP-yang menang .Karena pada saat itu di sana masih ada mas Kaka’, saudara saya beda ayah, beda ibu, beda suku, agama dan terutama warna kulit.Karena masih training mohon maaf lahir batin kalau tulisan saya masih belum serapih cucian loundry. anyway selamat membaca dan memetik hikmahnya 🙂

Hidayah

Eki, seorang mahasiswa kurus berjalan lemas keluar dari kelasnya. Ia baru saja selesai ujian matematika teknik. Wajahnya ditekuk dengan dahi berkerut dan rambut yang berantakan karena ia acak-acak selama ujian tadi. Ia berjalan dengan tas ransel menggantung sebelah dan sebentar-sebentar menggelengkan kepala. Ia merasa gagal karena tak satupun soal yang ia yakin akan benar. Apa yang ia pelajari semalam berbeda dengan soal yang dikeluarkan oleh dosennya. Ia mendatangi teman-temannya yang telah keluar lebih dulu.

“Gile bro, yang keluar meleset jauh sama yang ku pelajari. Suram nih”, kata Eki sambil menghela napas

“Iya nih. Hampir aja kertas ujianku kosong melompong”, Joni menanggapi

“Tapi untung bapaknya ga curiga tadi” lanjutnya

“Maksud kamu?” Eki bertanya. Ia mulai menangkap aroma tidak enak di sini.

“Ya biasalah, anak-anak nyari jawaban. Karena di otak ga ada jadi ya nyari sampe keluar keluas. Hahaha..” jawab Joni diikuti tawa dari teman-temannya

Eki terdiam. Wajahnya datar. Tenang dan tanpa ekspresi. Tapi hatinya mendidih. Sejuta pikiran buruk mulai mengorbit di sekitar kepalanya. Ia tidak tahu harus marah, kecewa, atau apa. Ia merasa dicurangi. Ia ingin mengatakan banyak hal untuk teman-temannya itu. Tapi ketenangannya lebih cepat beraksi pada saat itu. Ia menghela napas sejenak.

“Aku balik dulu ya”, kata Eki sambil berlalu meninggalkan teman-temannya yang dijawab dengan ‘yok’ kompak dari teman-temannya . Tapi Eki sudah tidak mendengarnya lagi. Pikirannya sudah terlalu penuh dengan ketidakterimaannya atas kejadian siang itu. Ia berjalan menuju parkiran dengan hati panas.

Ia teringat ketika semalam ia sedang belajar untuk ujian matematika teknik. Ia membaca dan mulai mengerjakan beberapa soal. Tapi Eki bukanlah anak yang terlalu pintar. Ia agak kesulitan dalam mengerjakannya. Dibolak-baliknya buku diktat mata kuliah itu tapi tetap saja tidak paham. Sampai beberapa temannya datang untuk belajar bersama.

Ada tidaknya teman yang ikut belajar ternyata tidak banyak membantu. Sampai satu jam mereka belajar, sedikit sekali mereka bisa mengerjakan.

“ah, pusing ah. Main game aja yuk” ajak Joni

“Iya nih, ga bisa-bisa. Main aja deh. Ayo Ki, main aja” sambung Riko mengompori Eki.

“hmm.. gmana ya? Masih beru paham beberapa doang nih”

“Ayo deh, tar lagi habis main belajar”

“oke deh”

Dan Eki mulai asyik dengan game itu sampai tanpa sadar mereka bermain sampai tengah malam. Teman-temannya pamit pulang karena capek bermain. Eki ingin belajar , tapi ia merasa mengantuk dan tertidur. ‘Ah, paling anak-anak juga tidur’. Tanpa pikir panjang lagi dia merebahkan badannya dan langsung pulas tertidur.Dan hasilnya ketika ujian tak satupun soal yang ia yakin akan benar karena ia masih belum paham betul dengan materi kuliahnya.

Eki memasang headset hitamnya untuk menyumbat telinga sebelum ia mulai mengayuh sepeda kesayangannya. Diiringi alunan merdu murattal favoritnya ia mengayuh sepeda. Matanya mengarah ke jalan. Tapi pikirannya melayang kemana-mana. Ia masih tidak rela dengan ujian tadi. Pikirannya dipenuhi dengan kata ‘ah, seandainya..’ dan ‘ah, tadi seharusnya..’

Tanpa sadar ia mengayuh sepedanya sampai dikos. Ia berhenti dengan sedikit terkejut.

“Lah? Kok udah sampai kos? Astaghfirullah.. Kok aku jadi ngelamun ga jelas gini sih. Ga sadar tau-tau sudah sampai kos aja”

Ia mau mencabut headset di telinganya. Tapi ketika jarinya telah menyentuh headset tersebut mendadak Eki menghentikan tangannya. Ia mendengarkan dengan seksama suara yang mengalun di telinganya.

‘…inna ma’al ‘usri yusro. Fainna ma’al ‘usri yusro. Faidza faroghtafanshob.wailarobbika farghob..’

Eki tidak terlalu pandai bahasa arab. Tapi ia tahu persis ayat tersebut adalah potongan ayat dari surat Al-Insyirah.Dan sedikit-sedikit dia juga tahu artinya. Eki kemudian melepas headsetnya. Mukanya tak lagi tertekuk. Kerutan di dahi yang selama perjalanan tadi bertumpuk kini tak lagi ada. Senyumnya mengembang, sorot matanya berubah menjadi tatapan yang optimis.

Astaghfurulahal’adzim.. Ya allah, tidaklah aku seharusnya mengutuki keadaan ini. Jika aku yang tidak mampu mengerjakan ujian tadi, seharusnya aku tidak menjadikan kecurangan yang dilakukan oleh orang lain sebagai kambing hitam kegagalanku. Seharusnya akulah yang harus berusaha lebih keras lagi. Aku yang seharusnya meningkatkan kemampuanku. Karena Engkau sendiri yang telah menjanjikan setelah kesulitan itu ada kemudahan . Bahkan Kau mengulanginya lagi untuk menegaskan. Dan setelah selesai mengerjakan sesuatu hal, seharusnya aku belajar yang lain lagi. Aku sadar, Kaulah hakim yang paling adil. Yang akan memberikan balasan dengan seadil-adilnya. Karena Engkau maha melihat, maha mendengar dan maha mengetahui. Semoga ini menjadi pelajaran yang berharga untukku..”

Ia melepas headset di telinganya. Tepat saat itu adzan ashar berkumandang. Lekas ia memarkir sepeda di teras kosnya. Sedikit terburu dia masuk ke kamarnya. Ia tidak sabar untuk segera berangkat ke masjid. Ia tidak sabar untuk segera mengadukan kejadiannya siang itu kepada-Nya, meskipun ia tahu Allah pasti sudah tau. Ia tidak sabar untuk mensyukuri hikmah yang baru saja dia dapatkan. Ia tidak sabar untuk mencharge ketaqwaannya dengan shalat dan dzikir kepada-Nya. Dalam hati dia berharap untuk bisa menjadi semakin peka terhadap hikmah-hikmah yang ada di sekitarnya.


Hai, ini cerita fiksi tentang Eki, seorang mahasiswa teknik di salah satu perguruan tinggi. Ini cerita murni karangan saya yang pertama lho! *tepuk dada* *batuk-batuk*

Saya ingin berbagi lebih banyak dengan Eki sebagai tokoh utama. Mungkin dengan bahasa yang lebih santai saja dari ini. Tetapi karena kesibukan kuliah (alasan) jadi belum sempat melanjutkan. Semoga bisa dimudahkan ke depannya. selamat mebaca dan memetik hikmahnya 🙂

Sekilas Tentang Jurusan Teknik Perkapalan

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Selamat datang di blog saya! Kali ini saya akan berbagi sedikit cerita tentang jurusan saya Teknik Perkapalan ITS. Sejarahnya dulu saat ITS berdiri tahun 1960, ITS memiliki 5 Fakultas yakni Fakultas teknik Elektro, Fakultas teknik Mesin, Fakultas teknik Sipil, Fakultas teknik Kimia, dan Fakultas teknik Perkapalan. Seiring berjalannya waktu fakultas teknik perkapalan berkembang menjadi Fakultas teknologi kelautan dengan 4 jurusan yaitu Teknik Perkapalan, Teknik Sistem Perkapalan, Teknik Kelautan, dan Transportasi Laut. Jadi kalau dihitung-hitung umur teknik perkapalan sama seperti umur ITS.

Entah angin apa yang membawaku dulu tertarik untuk daftar ke jurusan ini. Soalnya sebenarnya saya dulu ingin menjadi seorang guru. Namun ayah melarang saya untuk sekolah di keguruan. Akhirnya satu-satunya pikiran saya adalah sekolah teknik. Tapi saya bahkan hamper tidak sadar telah memilih jurusan ini dan diterima melalui jalur beasiswa Bidik Misi. Dan ini adalah jurusan pilihan pertama yang ku tulis di formulir SNMPTN jalur Ujian Tulis dulu. Dulu pilihan kedua adalah Teknik Pengairan Universitas Brawijaya. Mungkin dua-duanya bukan jurusan yang populer, tapi kemudian ada rasa syukur Allah telah memilihkan jurusan ini padaku. Di sini akau belajar banyak dan mendapatkan banyak ilmu. Meskipun aku harus pindah dari Blitar yang sejuk ke Surabaya yang panas.

Setelah masuk ke sini, saya baru tahu ternyata di ITS ini sangat kental dengan yang namanya pengkaderan. Dan di jurusan ini pun demikian. Dan tidak tanggung-tanggung lamanya waktu pengkaderan bukan sehari dua hari atau seminggu dua minggu, tapi setahun! Tapi alhamdulilah masa tahun pertama itu sudah berlalu dan sekarang kami – saya dan teman – teman seangkatan sudah diangkat menjadi P-52 (Teknik Perkapalan angkatan ke 52) dengan nama angkatan FORECASTLE. Salah satu kenangan yang khas dari pengkaderan adalah kenal angkatan. Dan konon angkatan kami dulu jumlahnya paling banyak dari angkatan-angkatan sebelumnya, yakni 181 karena ditambah dengan Jurusan Transportasi Laut (yang dulunya Prodi) 48 orang dan Mahasiwa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) 20 orang. Tentu dengan jumlah sebanyak itu merupakan kesuliten tersendiri untuk menghafal wajah, nama dan daerah asal yang menjadi tugas kami selama berbulan-bulan. Tapi pengkaderan di jurusan ini adalah salah satu (atau mungkin satu-satunya) di angkatan 2012 yang tidak pernah gundul. hehe

Di jurusan ini sesuai dugaan awal isinya Fisika, Matematika, dan menggambar (Desain). Dengan sedikit pembahasan tentang kimia tentang masalah material dan korosi. Menyesal? Tidak terlalu, karena memang pada dasarnya saya agak menghindari kimia yangmenurut saya cukup merepotkan di SMA. Hehe. Tapi saya kaget ketika tahu bahwa di jurusan ini adalah salah satu jurusan dengan indeks kelulusan tepat waktu terendah seantero ITS! Dengan mata kuliah berantai yang jika satu mata kuliah tertentu yang menjadi mata kuliah prasyarat yang lain tidak lulus maka akan berefek domino ke belakang. Maka tidak heran jika banyak senior-senior yang tertunda kelulusannya karena hal tersebut. Dari situ aku berharap semoga nantinya kuliahku diberikan kelancaran sehingga bisa lulus tepat waktu. Amin

Pesan di Lima Menit Terakhir Hidupku

Pesan ini ku tujukan untuk ayah, seseoarang yang telah mengajarkanku banyak hal tentang hidup ini. Ia tahu kapan harus menarik kuat benang pembatas agar aku tak melakukan sesuatu, dan kapan harus mengendurkan benang itu untuk membiarkanku berkembang menjelajahi dunia ini. Juga untuk ibu yang telah menyayangiku selama ini. Tidak ada kata terima kasih yang pantas untuk kusandingkan dengan pengorbanan kalian berdua.Kalian adalah salah satu alasan terkuatku untuk menjalani hidup ini. Untuk..

“Waktu habis! letakkan alat tulisnya” ucap Mas Nanda menghentikan penaku menari di atas kertas itu.

menulis


Saat itu adalah saat dimana mas Nanda mengawali perjumpaan kami di Training Jurnalistik SDM IPTEK. Ia meminta kami membayangkan jika lima menit saat itu adalah lima menit terakhir dalam hidup kami. Kemudian kami harus menuliskan pesan terakhir dalam hidup kami kepada siapapun dalam waktu tersebut. Hasilnya seperti di atas, pilihanku jatuh pada pesan kepada kedua orang tuaku.Merekalah yang terlintas pertama kali di pikiranku. Apakah karena mereka orang yang paling berharga? entahlah.

Setelah selesai dan dikumpulkan, baru aku kepikiran, apa yang ditulis teman-teman santri yang lain? Apakah sama denganku? entahlah. Mungkin mereka akan menuliskan pesan kepada orang yang menurut mereka orang terpenting dalam hidupnya juga. Sesaat aku merenung. Kalau mereka (orang tuaku) sangat berharga untukku, lalu apa yang sudah kulakukan untuk mereka?

Baru juga aku menyadari, bahwa lima menit tidaklah cukup bagiku menuliskan pesanku kepada orang-orang yang akan aku tinggalkan. Bahkan untuk ‘keluarga kecilku’ saja tidak cukup. Aku belum memberikan pesan kepada kakakku  satu-satunya.Tapi sebenarnya aku juga bersyukur karena waktu yang diberikan hanya lima menit. Karena sepertinya aku tidak akan sanggup melanjutkan pesanku. Mungkin aku akan merenung dan meyesali apa saja yang telah kulakukan dalam hidup ini. Sudahkan aku bermanfaat bagi sekitarku? Sudahkah aku membahagiakan orang-orang yang kusayangi? Apa yang telah kutinggalkan selama hidup ini? Apakah aku akan hidup lalu mati dan dilupakan? Aku kembali merenung.

Subhanallah! Maha Suci Engkau yang menuntunku kesini. Membukakan pikiranku atas jalan-Mu. meunjukkan aku jawaban atas pertanyaanku sendiri. Seperti sebuah kalimat yang pernah saya dengar, “Menulislah! dan kau akan abadi!”. Aku menarik kesimpulan ‘Ya! inilah caraku bermanfaat, inilah cara untuk meninggalkan jejak di hidup yang sesaat ini’. Tapi aku merasa itu belum bisa membuat aku, yang tadinya kesulitan dan tidak memiliki kemauan yang cukup untuk menulis, menjadi seseorang yang lancar dan keranjingan menulis. Tapi Allah menunjukkan kuasa-Nya (lagi-lagi) melalui mas Nanda, ia menjelaskan bahwa motivasi terbaik untuk menulis adalah cinta. Ya, cinta. Baik itu menulis sesuatu yang kita cintai maupun mencintai menulis itu sendiri. Keduanya adalah hal yang insyaallah mampu memotivasi kita untuk menulis. Tapi tetap, sambil terus berdoa agar dimudahkan olaeh-Nya dalam menulis.

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Ya Alah, jadikan aku menjadi seorang yang rajin, yang mampu berbagi dalam tulisan, menjadi bermanfaat dengan tulisan, menjadi jalan hidayah-Mu untuk orang lain, dan menjadi seseorang yang senantiasa berada di jalan-Mu yang lurus. Lancarkanlah, bukakanlah cakrawala pemikiranku. Pilihkanlah kata demi kata terbaik untukku. Dan jadikan aku seorang yang berhati-hati dalam berucap dan barkata, sekalipun lewat tulisan. Ihdinashshiraathalmustqiim. Ihdini ya Hadi. Amin


Alahamdulillah, ini postingan pertama saya, jadi maklum kalau masih berantakan. postingan yang (semoga) menjadi motivasi saya untuk menikah menulis, hehe.. Terima kasih sudah membaca dan semoga bermanfaat.


Perhatian!! Hak cipta tidak dilindungi udang-udang di laut. Dilarang Dianjurkan membagikan tulisan-tulisan saya seluas-luasnya. Semakin banyak di-share semakin bagus. hehe